Thursday, August 25, 2011

Akhwat Bambu

Jika memang ada 1 dari 1000 manusia ‘hampir’ mendekati sempurna, itu pasti Mbak Alya, wanita cantik yang selalu tersenyum, hubungannya dengan Allah yang kejaga dengan baiiik banget (yang aku tau),Akhwat Bambu .. yaa.. menurut artikel yang pernah aku baca di majalah, orang seperti ini disebut juga sebagai ‘akhwat bambu’, menyejukkan, tanpa harus memaksa orang lain untuk menjadi sepertinya, nyaman, benar-benar sosok inspiratif yang aku kagumi.., tapi pagi ini.. sesuatu membuat sudut pandangku berubah.

Mbak Alya pergi ke klub ? ah, nggak mungkin, ini nggak mungkin ! mbak Alya yang aku kenal sebagai wanita shaleha, bahkan menurutku dia adalah teman terbaik seantero kampus, aku dengar dari Dini barusan, Pergi barsama 2 orang lelaki ke Klub kemarin sore.

“jangan ngada-ada lo din ..!” aku mencoba bersikap denial.
Swear, gue nggak bohong rin, sumpah deh, doi pergi bareng 2 cowok ke Ninety eight, gue liat sendiri, kayaknya mereka anak kampus juga deh, ckck nggak nyangka gue”

“Astagfirullah .... mudah-mudahan kita ngga suudzhan”.

*

Keesokan harinya, aku segera mencek ‘n ricek kebenaran berita yang aku peroleh dari Dini sahabatku, aku harus segera menemui mbak Alya nih, selesai kuliah aku harus menyelidikinya, Pukul 14.25 kelas bubar, sebagian mahasiswa dikelasku memilih untuk berdiskusi di kelas, setelah mendapat tugas dari dosen berjidat ting-ting (itu panggilan sayangku untuk dosen sastra yang jidatnya
hampir memenuhi isi kelas).

“Airin, aku pulang duluan ya .. ada urusan mendadak nih,
Assalamualaikum” dia mengucap salam setelah cipika-cipiki
“ee.. ehh, ia mbak, wa’alaikumsalam” jawabku kikuk, ketika mengingat peristiwa yang diceritakan Dini kemarin. untuk sekedar bertanya, aku tak berani, aku tak ingin selancang itu menanyakan perihal kepergiannya ke klub, biar bagaimanapun, aku sangat menghormatinya walaupun usia kami hanya selisih 2 tahun. I’m very respectful to her as she’s my sister. Aha ! daripada aku terus menyimpan rasa penasaran, lebih baik aku ikutin aja diam-diam, pikirku. Segera aku bergegas mengikuti Mbak Alya, mengendap-endap layaknya copet yang perlahan ingin menyergap mangsanya. Dini mengamatiku dari jauh. Di depan gerbang, Aku menaiki taksi dan segera mengikuti Mbak Alya yang menggunakan sepeda motor. Tiba di pertigaan, tidak jauh dari lokasi kampus, dia memasang lampu sign kearah kiri, “KANTOR PENERBITAN KOMUNITAS SAHABAT PENA”. O'ow, mau apa mbak Alya kesini ? sejak kapan dia berhubungan dengan dunia tulis menulis, wah .. penyelidikan semakin complicated !

“Mas, titip motornya ya !” ucap Mbak Alya kepada Mas-mas tukang parkir berhanduk merah jambu. Aku masih mengamati dari dalam taksi, persis seperti detektif yang menyelididki kasus perselingkuhan “Majikan & Pembantu”, aku tidak mau mbak Alya tahu kalau aku mengikutinya. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan wajah sumringah. Hey, ada apa didalam ?, aku menunggu hingga Mbak Alya pergi, kemudian segera bergegas menuju kantor penerbit
tersebut.

“Selamat siang Mbak” sapaku kepada resepsionis
“Selamat siang, ada yang bisa dibantu ?” balas resepsionis berjilbab biru itu, ramah.
“Iya saya mau tanya,mbak yang barusan itu, ada keperluan apa ya kesini?”
“maaf, orang yang mana yang mbak maksud?”
“hmm, itu lho, mbak-mbak yang pake jilbab cokelat, tas selempang hitam, namanya Alya Yudhita, kebetulan saya adalah teman kuliahnya,tadi lewat sini, terus liat dia, tapi ngga sempet nanya.. hehe “ aku cengengesan, berbohong &mengarang alasan panjang lebar supaya nggak kelihatan sedang menyelidik , mungkin dalam hati mbak resepsionis itu bilang “nggak penting!”

“oOhh .. Mbak Alya itu ya ? iya, barusan dia menyerahkan naskah cerpen kepada redaksi, yang akan diikutsertakan dalam lomba tahunan, pekan cerpen remaja” jelasnya panjang lebar.

Hah ? cerpen remaja ? sejak kapan Mbak Alya suka menulis ? setahuku dia lebih suka dengan buku-buku ilmiah deh, dia sendiri yang bilang bahwa tahu tentang buku-buku fiksipun semenjak mengenalku,

“gimana bisa?” sergahku dalam hati.
“mm.. maaf mbak, ada lagi?” pertanyaan dari resepsionis itu menyadarkan aku yang sedang bengong.
“ehh, maaf maaf, boleh tahu apa judul cerpen yang dia tulis ?’ tanyaku penuh selidik
“sebentar ya .. saya cek dulu” Mbak resepsionis masuk kedalam ruangan redaksi, tidak lama kemudian dia kembali ketika aku ingin membuka sms dari Dini .
“ini mbak judul cerpennya” dia menyerahkan kertas kecil kepadaku
“Menjadi Semut Kecil : Malang 19 oktober 1992”.
OMG ?!! itu kan judul cerpen ku, cerpen yang pernah aku tulis beberapa bulan lalu dan sempat aku perlihatkan kepada Mbak Alya ! cerpen pertamaku yang ingin aku jagokan dalam kompetisi menulis di kampus bulan depan, sekarang ada ditangan penerbit, tetapi bukan atas namaku, melainkan atas nama Alya Yuditha ! perasaan berkecamuk dalam hatiku, rasa penasaran yang pada awalnya hanya ingin mengetahui tentang kepergiannya ke klub, berubah mnjadi rasa marah dan kecewa. Kok bisa ??

**

“hey non ! gimana penyelidikan lo kemarin ? gue sms ko ngga dibales ?” Dini menghampiriku yang sedang berjalan di koridor kampus
“Parah !” jawabku singkat
“hah .. ? apanya yang parah ?” Dini penasaran
“Mbak Alya ..” ucapanku menggantung, terlalu malas untuk bercerita.
“Mbak Alya Parah ? kenapa ? aduh ada gossip apalagi nih ?” Dini yang cerewet makin menggebu-gebu
“ini bukan gossip Din, ini FAKTA ! dia.. hrrh dia ngirim cerpen gue ke komunitas Sahabat Pena, tanpa sepengetahuan gue, dan parahnya lagi cerpen itu dimuat atas nama dia !” nada bicaraku meninggi

“hah ? serius lo?”
“ihh beneran … parah kan ? gila ya, padahal cerpen itu mau gue kirimin lusa , kalo udah diikutsertakan ke lomba lain mana mungkin bisa, apalagi nanti gue dikira plagiat sama BEM, padahal jelas-jelas itu karya orisinil gue yang dibajak orang ! huh” tak tahu kenapa aku semakin kesal harus menceritakan ini kepada orang lain.

***
Sejak pagi hingga siang ini, aku sama sekali tidak menegur mbak Alya di kelas, Mbak Alya yang sedikit pendiam hanya geleng-geleng kepala setiap kali bertanya kepadaku “kamu kenapa Rin ?”
“Nggak apa-apa” jawabku singkat, enggan melihat wajahnya, apalagi berbicara kepadanya. SEBEL ! . Sore harisetelah mata kuliah terakhir selesai, kuliah mulai sepi, aku duduk disamping Mbak Alya yang sedang merapikan bindernya, tatapanku lurus, aku mulai membuka percakapan
“Apa maksud mbak mem-plagiat cerpen aku ?”
“He ? plagiat cerpen ? maksud kamu ?” tanyanya tak mengerti
“hmh” aku tersenyum getir, sinis. “Enggak usah pura-pura deh , Mbak ngirim cerpen aku kan ke penerbit komunitas sahabat pena? Atas NAMA mbak Alya . Mbak kan tau, cerpen itu bakal aku jagoin buat kompetisi menulis cerpen fiksi bulan
depan ..!” emosiku mulai memuncak
“Ohhh.. itu” tanyanya lagi tanpa perasaan bersalah sedikitpun
“hhh.. aku nggak nyangka ya, mbak orangnya kayak gini. Sebelumnya aku juga denger dari anak-anak kalo mbak pergi ke Klub, aku kira mbak tuh beda .. ternyata ngga seperti
keliatannya, aku kecewa sama Mbak !”
Aku bergegas pergi meninggalkannya , tak mau menengok lagi .
“eh eh, Rin.. ko pergi.. aku kan belum ngomong ?” panggilnya. Aku tetap berlalu. Nyelonong.

***

“Emosi itu ngga akan pernah menyelaikan masalah tohnduk, kamu kan masih bisa bikin cerpen yang lain, nggak perlu marah-marah kayak gitu” Nasihat Ibuku setelah aku menceritakan semuanya, disaat paling “enggak banget’ seperti ini memang ibu tempat yang paling tepat
untuk diajak curhat.
“gimana nggak emosi bu, aku sampe bela-belain begadang buat bikin cerpen itu, untuk nulis cerpen baru udah nggak mungkin, besok pagi tuh udah deadline bu, gimana rasanya coba, karya yang aku bikin susah payah malah diakui orang lain ? apalagi itu adalah orang terdekat aku sendiri”
“Iya ibu ngerti, tapi masalah mbak Alya pergi ke klub kayaknya ibu nggak yakin deh, yang ibu dengar dari cerita-ceritakamu tentang Mbak Alya, kayaknya ngga mungkin deh rin" ibu mencoba tetap positive thinking
“ah.. tau ahh .. pokoknya weekend ini aku mau ke Bandung aja, liburan di rumah tante, BT disini”
Yowes terserah kamu, tapi kalo bisa mbok ya jangan suudzhan dulu, nanti dimarahin sama Allah lho, dikutuk kulit kamunambah item, hihi” ibu yang jahil menggodaku yang ngeloyor pergi, tambah manyun.

Aku menyiapkan sedikit pakaian untuk 2 hari berlibur di Cihampelas, “huh lupain aja ‘Rin kompetisinya” kataku kepada diri sendiri. Setelah berpamitan, aku segera bergegas menuju terminal, masuk kedalam bis jurusan Bandung yang masih sepi penumpang, aku mencari-cari tempat duduk yang pas, aha, strategis, di sisi kiri, dekat dengan jendela dan pintu. Aku menyimpan tas, mengambil iPod dari saku celana jins yang sudah belel, menggeser tombol switch off ke on, klik tombol
play, lagu lawas milik Sheila on 7 menemaniku didalam bis yang masih lengang. Hanya terlihat 2 orang lelaki duduk di deretan kursi belakang, kelihatannya
seperti perantau yang akan pulang kampung, tebakku sok tahu . 1-2 pedagang asongan masuk kedalam bis, dari arah belakang tiba-tiba seorang bapak-bapak penjual kerudung menyapaku “permisi neng, sendiri aja?” tanyanya ramah, tapi aku tetap waspada “sok kenal banget nih orang” kataku dalam hati.
“eh, ia pak.. hhe” senyum terpaksa
“mau
beli kerudung ? maaf, tadi kebetulan saya lihat neng sholat Ashar di Mushola terminal, mungkin berminat untuk pakaikerudung?”
“deg!”
nah lho, jantungku seperti dihentak, jilbab .. ia .. niat yang udah lama aku pikirkan, tapi masih belum aku laksanakan sampai saat ini
“bahannya adem mbak, Cuma 30 ribu 2 pcs”
lanjutnya sambil mengibar-ngibarkan jilbab dagangannya tersebut
Aku tertarik melihat jilbab warna-warni itu, bebrapa bulan yang lalu mbak Alya juga pernah menghadiahiku 1 Jilbab putih, cantik .. dia bilang
“boleh dong kapan-kapan aku liat Airin pake jilbab” ucapnya tersenyum, aku tau dia sama sekali tak bermaksud menyindir
“hehe .. ia Mbak , insyaAllah kapan-kapan ya ..” aku menjawab ngasal Aduh .. jadi inget mbak Alya lagi
. masih gondok.
“neng?” ucap penjual kerudung, lagi-lagi aku bengong
“eh, ia pak .. 25 ribu 2 ya pak ? gimana ?” aku menawar
“hmh.. boleh deh, mau ambil berapa ?
“2 aja, yang ini, sama yang ini, ni uangnya pak”
“ya, makasih neng” penjual kerudung itu pergi Aku membeli jilbab berwarna Hitam dan Abu, warna yang biasa dipakai untuk jilbaber pemula.aku mau belajar pakai jilbab ah  kata ibu niat baik itu ngga boleh ditunda-tunda. Batinku mantap!. Tiba di kediaman tanteku di Bandung, niat semula ingin menghabiskan weekend di kebun Strawberry, aku malah tidak pergi kemana-mana, aku bahkan hanya mematut-matut diri di depan cermin, belajar memakai Jilbab. Tante Ira yang melihatku sibuk nggak karuan, dengan baik hati membantu
“aduuh.. udah segede ini ko ngga bisa pakai
jilbab..” goda tanteku
“hehe.. abis aku nggka pernah belajar tan, dari dulu disuruh sama ibu tapi ada aja alesannya” jawabku ngeles
“sekarang mau pake gitu?”
“Iya tan, udah dapet hidayah kayaknya, heheh” Dengan sabar, tante Ira membantuku memakai Jilbab dengan benar, ternyata jilbab membuatku terlihat lebih cantik , tidak seperti yang aku pikirkan sebelumnya. Senang :).

Masalahku dengan orang yang kuanggap saudara, yang telah mengecawakanku, sejenak telupakan.

***

Ringtone Chris Brown berbunyi dari Hp-ku, berdering berkali-kali, ahh .. udara kota yang sejuk membuatku urung menjauh dari selimut tebal yang membungkus badan Hp aku letakkan di meja dekat pintu. Setelah
bunyi yang kesekian kali,aku terpaksa melangkah, meraih Hp.
“Dini, mau ngapain ni anak ?”
“klik” kutekan tombol aswer
“huaalloo..” sapaku malas
“eh, halo rin, ini gue Dini”
“ia udah tau
cumii.. kan ada nama lo.. hhrh ada apaa sih? Pagi-pagi udah gangguin liburan guee .. hoaahh” ngedumel
“itu rin, Mbak Alya, kena musibah .. semalem dia tabrakan sama gerobak bakso mas ‘min”
Pfiuuhh Dini, pliss deh .. tabrakan sama gerobak sampe seheboh ini ..
“hee ? Cuma tabrakan sama gerobak bakso trus kenapa?”
“iyh jahat lo ya, matanya kena cuka yang ada digerobak, dua duanya, sampe dilarikan ke rumah sakit tau !”
“degg !” jantungku melonjak.. kaget
“sserius lo din?”
“Sumpah!” . Tanpa babibu, aku segera
bersiap-siap untuk pulang, pamitan kepada tante, dan .. kali ini berbeda, aku mengenakan Jilbab.. ia jilbab hitam yang aku beli 2 hari yang lalu.

**

“Assalamualaykum Mbak” aku mengucap salam, mataku berkaca-kaca melihat kondisinya, matanya dibebat oleh perban hingga megelilingi kepala.
“wa’alaikumsalam.. Arin?” jawabnya tersenyum, Subhanallah.. dalam kondisi seperti ini bahkan dia masih tetap bisa tersenyum
“Mbak, aku minta maaf ya, aku udah marah-marahin mbak waktu itu, ngga seharusnya aku marah-marah kayak gitu .. aku udah lupain ko masalah cerpennya”

“Iya nggak apa-apa, aku juga yang salah nggak ngomong sama kamu, jadinya salah paham deh, maksud aku mau kasih kejutan ke kamu, jadi ceritanya, waktu itu temenku orang redaksi di komunitas Pahabat Pena, ngga sengaja liat cerpen itu diblog kamu, dia bilang lumayan bagus dan kenapa ngga nyoba dikirim ke kantornya aja, hadiahnya kan lumayan banget Rin kalo menang, dapet Ipad lho “ dia menjelaskan panjang lebar

“…”

Aku masih diam, merasa sangat bersalah
“Oiya, satu lagi. Cerpen itu memang dimuat dengan biodata aku, tapi tetap atas nama kamu, tetap aku cantumin karya Airin kok di cerpen, maaf ya “

“Ehh .. lalu, masalah mbak ke klub itu ? alih-alih meminta maaf, aku malah menanyakan hal lain.
“ohh, hehehe.. mau dibeli sama pihak kampus, katanya sih mau bikin aula baru disana, aku kan anggota BEM juga, aku ditunjuk oleh ketua untuk terjun langsung dalam proses perizinannya”

“…”

Aku hanya terdiam mendengar penuturannya, aku salah paham, aku bodoh, aku telah berprasangka sangat buruk kepada wanita baik ini, wanita berhati malaikat ini, maafkan aku Ya Rabb.
“Mbak..”
“Iya Rin..”
“Aku..udah.. pake jilbab”
“Oiya ? Alhamdulillahirabbilalamin.. “ucapnya penuh rasa syukur
“Kamu pasti cantik banget Rin”
“Iya, mbak bilang mau liat aku pake jilbab.“ pelupuk mataku menghangat
“Mau banget Rin, tapi gimana lagi, dokter bilang kalau pengobatan berjalan lancar, mata aku baru pulih sekitar 2 munggu lagi”
“Mbak..”
“Iya, kenapa lagi Rin ?”
“maafin aku yaa .. maaf banget” ucapku sambil memeluk Mbak Alya, tangisku tumpah dibahunya, sangat-sangat merasa bersalah. Pintaku saat ini, Ya Allah,segeralah sembuhkan malaikat ini .. :(