Sunday, November 23, 2014

Perspektif: pemahaman ‘bisa jadi’.

Pernah denger kata perspektif ?. Gue rasa hampir semua orang pernah denger kata ini, tapi cuma sedikit orang yang benar-benar paham, apalagi mampu mengaplikasikannya dalam konteks yang lebih kompleks. Well, menurut mbah Wiki (wikipedia.com), perspektif adalah sudut pandang manusia dalam memilih opini, kepercayaan, dan lain-lain. Definisi simpelnya sih gitu, nah dalam menerapkannya di kehidupan sehari-hari, susah gak sih nerima perbedaan perspektif dari tiap-tiap orang ? which is beda kepala aja udah jelas banget beda pemikiran. Se-cocok apapun isi kepala elo sama orang lain. Pasti akan beda, atau ada fase dimana pemikiran dan pendapat lo sedikit beda, bahkan nggak menutup kemungkinan ada saat dimana pendapat dan pemikiran lo justru berbanding terbalik dengan orang tersebut.

Dari pengalaman gue yang mungkin bisa dibilang belum terlalu gape di dalam kaitannya dengan berkomunikasi secara sama orang lain, gue sering nemuin banyak terjadi masalah disini. Dari sebuah definisi simple tentang sudut pandang, banyak terjadi benturan antara satu pespektif dengan perspektif lainnya. Kalo yang gue pernah pelajarin dari teorinya Om Stephen Covey tentang perspektif manusia, gue nemuin beberapa hal yang menarik sekaligus bisa dijadiin pelajaran buat ngeliat segala sesuatu enggak cuma dari perspektif kita sendiri, belajar buat melihat dunia dan segala sesuatunya dengan lebih wide.

Coba deh liat gambar di bawah ini :


Mungin beberapa orang udah pernah liat gambar ini, gue sendiri pertama kali liat gambar ini pas kuliah semester 5, ada satu mata kuliah gitu yang ngebahas tentang psikologi dan cara pandang. Nah dari gambar diatas, yang pertama kali gue tangkap adalah gambar seorang cewek cantik extravaganz yang lagi nengok ke kanan. Sedangkan salah satu temen gue bilang, yang dia tangkap adalah gambar seorang nenek tua yang sedih dan menunduk. Gue kaget, gue kira doi bercanda dong, wong jelas-jelas itu gambar cewek yang masih muda, darimana ceritanya itu berubah jadi nenek-nenek ? hahaha..
Tapi apa yang terjadi kemudian ? Dosen gue menerangkan tentang sebuah sudut pandang, ternyata pendapat gue dan pendapat temen gue bener. Enggak ada yang salah, tergantung gimana sudut pandang kita ngeliat gambar tersebut. Setelah gue perhatiin lagi, emang bener itu bisa jadi gambar nenek tua berhidung besar yang berwajah murung, begitu juga dengan temen gue tadi, setelah dia perhatiin ulang gambarnya, doi juga bisa ngeliat cewek cantik yang gue maksud tadi. 

See the real case ?

Nah, dari situ gue ngerti bahwa selama ukurannya adalah pemikiran seorang manusia, enggak ada yang benar-benar benar, atau benar-benar salah. Mungkin sekarang elo ngotot kalo pendapat lo paling bener karena akan jauh lebih baik dari sisi apapun, bla.. bla.. bla.., iya menurut elo. Nah menurut orang lain yang mungkin punya pandangan yang berbeda dan ngeliat angle yang berbeda dari masalah yang sama, apa mau disalahin ?. Dari sebuah teori sederhana diatas, gue belajar banyak bahwa pendapat atau pemikiran seseorang enggak bisa dijadikan standard dan disamaratakan. Semua itu balik lagi kepada pemahaman ‘bisa jadi’. Bisa jadi pendapat lo bener dari sisi lo, bisa jadi pendapat orang lain bener dari sisi mereka. Kalo memang dari pemahamannya aja begitu, menurut gue manusiawi banget kan kalo banyak perbedaan pendapat sering banget kita temuin dimana-mana, nah ngomongin perbedaan pendapat, mungkin kasus yang masih hangat sekarang adalah kenaikan bbm.

Society’s Expectation :

Bahan bakar tetap terjangkau dengan harga Rp. 6.500,-

Government’s policy :

BBM tetap harus naik karena subsidi harus bisa dialokasikan ke tempat yang lebih tepat
sasaran.

Result :

DEMO DIMANA-MANA..

            Well, kita lagi nggak ngomongin politik, jadi tolong buat para pembaca, buang jauh-jauh stigma Jokowi-Prabowo, Patai dll, karena gue sama sekali nggak minat buat bahas itu disini. Gue cuma lagi coba mengkaji ‘pemahaman sudut pandang’ tersebut. Nah disini sih udah jelas banget ya kalo perspektifnya udah jauh… jauhhhhh.. berbeda. Dari sisi seorang rakyat sipil yang membiayai hidupnya sendiri dengan penghasilan yang Alhamdulillah pas-pasan, pas kalo lagu butuh apa-apa insyaallah ada XD, gue juga sempet kepikiran gimana caranya ngasih minum motor gue yang boros banget itu, secara budget /bulan aja buat transportasi udah lumayan besar. Tapi kemudian gue mikir lagi, dengan berbekal informasi bahwa bbm di Indonesia terbilang paling murah karena disubsidi, gue pikir ini saatnya. Karena mungkin siapapun presidennya, BBM pasti bakal naik. Pasti. Enggak mungkin enggak. Karena menurut gue menaikkan bbm bukan suatu kebijakan, tapi keharusan. Cuma masalah waktu aja. Nah, ada yang bilang pemikiran macam gue ini adalah pemikiran sok kaya, padahal beli tempe aja masih nawar (lol). Urusan itu sih balik lagi ke perspektif, gue sih santai, karena gue paham mungkin orang lain punya cara pandang yang lain juga. Kasus tadi cuma contoh kecil aja di postingan yang pengen gue share disini. Karena gue pribadi sering terjebak sama masalah sepele-tapi-penting macem beginian.

Mungkin dari semua benturan-benturan yang pernah terjadi dikarenakan maslah perspektif, dari semua pemikiran-pemikiran yang enggak ‘ketemu’, dan dari semua kesepakatan yang pernah dipaksakan demi menjaga perasaan ‘nyaman’ dalam sebuah hubungan, gue berharap kita semua bisa lebih jujur sama diri sendiri dan memandang segala hal dari sisi yang lebih kompleks. Bahwa tiap orang punya kacamata-nya sendiri, dan kacamata itu yang pake bukan cuma lo doang. Dan sekali lagi, sudut pandang lo enggak bisa jadi standar kebenaran suatu hal. Enggak akan pernah.

Salam,
Peace, Love and gaul !